Review Film: Galih dan Ratna

Monday, March 13, 2017

     Cinta pertama. Atau cinta monyet. Atau apalah itu. Semua pasti pernah merasakannya, terutama di masa-masa remaja yang indah. Tetapi ini tidak pernah dirasakan oleh Galih, seorang siswa SMA teladan tetapi introvert yang hidup dalam bayang-bayang almarhum Ayahnya dan tuntutan Ibunya yang harus struggle sebagai single-mother.
     Ratna, seorang siswi yang baru saja pindah ke SMA tempat Galih bersekolah. Pintar dan berbakat namun Ia sendiri tidak tahu passion hidupnya apa. Ia hidup tanpa tujuan, selalu mengejar hal-hal yang sangat instan. Layakanya anak millenials saat ini. 
     Di suatu sore, di lapangan belakang sekolah, Galih dan Ratna pun bertemu. Sebuah pertemuan yang sederhana. Ratna tertarik dengan walkman yang sedang didengarkan oleh Galih. Galih membiarkan Ratna mendengarkan kaset mixtape pemberian Ayahnya.
     Inikah yang disebut dengan cinta pertama? Yang manis, menggebu-gebu dan juga pahit? Yang berawal dari sebuah momen sederhana di lapangan belakang sekolah? Pada akhirnya, cinta pertama inilah yang membawa Galih dan Ratna ke tahap baru dalam kehidupan mereka. Sebuah tahap pendewasaan di mana tanggung-jawab, tuntutan dan passion saling berperang dan akhirnya berdamai. Dan cinta pertama inilah yang akan selalu menjadi sebuah kenangan yang tidak akan mereka lupakan.
 
Galih dan Ratna
REVIEW :
     Sebelumnya gue pernah denger sih soal film Ratna dan Galih versi Rano Karno, cuma emang nggak pernah nonton dan nggak tau detail ceritanya kayak apa. Jadi bener-bener nggak tau endingnya bakalan kayak gimana. Kalau liat teaser dan baca sinopsisnya, yang kebayang adalah kisah percintaan yang terjalin di masa SMA. Dan penasaran banget ceritanya bakalan dibawa kayak apa. Soalnya selama ini, film-film tentang percintaan anak SMA menurut gue udah nggak seasik film percintaan kayak modelnya Ada Apa Dengan Cinta? , alias terlalu dewasa sebelum waktunya. Makanya gue berharap banget kalau film yang walaupun dibuat di era Millenial ini tetap mengadopsi kisah-kisah percintaan tahun 80-90'an.
     Walaupun tetap menghadirkan unsur kekinian, kisah cinta Ratna dan Galih di film ini top banget, alias gue suka. Yang namanya cinta pertama atau cinta monyet, pastinya bisa bikin dunia kita berubah. Jadi lebih menggebu-gebu pastinya. Apa-apa maunya dikerjain bareng, belajar bareng, main bareng, semuanya harus bareng-bareng. 
     Di sini terlihat kalau Ratna memang yang lebih dahulu agresif. Tapi Galih sebagai cowok juga yang pada akhirnya terlebih dahulu menunjukkan perasaan cintanya ke Ratna. Dan menurut gue itu sweet banget. Di mana Galih yang malu-malu ngutarain perasaannya dengan cara yang berbeda. Lewat mixtape! Yup, di jaman sekarang bakalan susah banget buat dengerin lagu lewat kaset. Tapi namanya juga dimabuk cinta, Ratna berusaha keras mencari cara agar bisa dengerin kumpulan lagu yang dibuat Galih untuknya. Semua adegan konyol tentang percintaan di film ini tuh terasa nyata, jadi bikin senyum-senyum sendiri dan mikir, iya ya karena cinta, gue bisa ngelakuin hal-hal konyol yang menyenangkan dan bikin hidup lebih berwarna.
     Selain cinta-cintaan, di film ini kita juga bisa melihat bagaimana pengorbanan Galih yang terpaksa harus mengikuti kemauan Ibunya dalam menentukan cita-citanya. Galih yang sayang sama keluarganya mau nggak mau harus menyimpan rapat-rapat harapannya dan kecintaan terhadap musik demi menjadi seorang sarjana IT seperti mau Ibunya. Karena Ibunya berpikir hanya itu satu-satunya cara untuk bisa merubah status sosial mereka dan hidup lebih baik. Sedih sih, di saat kita harus ngorbanin kebahagiaan diri sendiri demi kebahagian keluarga.
     Sedihnya juga nggak sampai situ aja. Sikap Ratna yang terlalu mencintai Galih malah membuat Galih kecewa. Tapi yang namanya cinta dan sayang nggak mungkin pudar gitu aja, Galih tetap sayang sama Ratna walaupun mereka nggak bisa bersama. Dan menurut gue itu menyakitkan! Endingnya bener-bener sedih tapi ngeselin dan gue berharap banget bakal ada sekuel untuk film ini. Oiya, soundtrack Galih dan Ratna versi GAC di film ini juga bagus banget dan makin enak di denger lho.
    
Genre : Drama
Duration : 112 minutes
Distributor : 360 Synergy Production
Producer : Sendi Sugiharto, Ninin Musa
Director : Lucky Kuswandi
Writer : Fathan Todjon, Lucky Kuswandi
Cast : Refal Hady, Sheryl Sheinafia, Joko Anwar, Marissa Anita, Ayu Dyah Pasha, Indra Birowo, Rano Karno, Yessy Gusman
Tayang di Bioskop Thursday, 9 March 2017

You Might Also Like

0 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *