Review Film: Dilan 1990

Tuesday, January 30, 2018

     Milea bertemu dengan Dilan di sebuah SMA di Bandung. Itu adalah tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung. Perkenalan yang tidak biasa kemudian membawa Milea mulai mengenal keunikan Dilan lebih jauh. Dilan yang pintar, baik hati dan romantis... semua dengan caranya sendiri. Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelakinya yang lain, bahkan Beni, pacar Milea di Jakarta.
     Bahkan cara berbicara Dila yang terdengar kaku, lambat laun justru membuat Milea kerap merindukannya jika sehari saja Ia tak mendengar suara itu. Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, gank motor, tawuran, Anhar, Kang Adi, semua mewarnai perjalanan itu. Dan Dilan... dengan caranya sendiri... selalu bisa membuat Milea percaya Ia bisa tiba di tujuan dengan selamat.
     Tujuan dari perjalanan ini. Perjalanan mereka berdua. Katanya, dunia SMA adalah dunia paling indah. Dunia Milea dan Dila satu tingkat lebih indah daripada itu.. 
 
Dilan 1990
REVIEW :
     Sebagai orang yang nggak pernah baca novel Dilan 1990 atau novel Dilan 1991 dan Milea. Aku nggak terlalu berekspektasi lebih di film ini. Makanya ketika orang-orang banyak yang nggak setuju Iqbaal meranin Dilan juga ya aku nyantai-nyantai aja.
     Walaupun gitu, aku tetap tertarik buat nonton film yang udah lama banget jadi bahan pemberitaan ini. Karena menurut aku film yang diadaptasi dari novel tuh ceritanya bakalan bagus banget dan masih orisinil. Dibanding film-film Indonesia yang diadaptasi dari film luar. Kalau menurut aku sih itu nggak banget dan nggak kreatif.
     Balik lagi ke film Dilan 1990, aku nggak bisa bilang suka atau nggak suka sama film ini. Kalau ngebahas pengambilan lokasi, film ini benar-benar bikin kita ngerasa balik lagi ke tahun 1990-an. Properti-properti yang digunakan juga mendukung banget. Cuma yang agak ganggu sih pas adegan Milea dan Bundanya Dilan di mobil. Asli sih itu efek editannya nggak smooth banget.
     Kalau masalah akting Iqbaal yang dibilang meragukan untuk memerankan Dilan, malah menurut aku Iqbaal udah sangat total dan cocok banget meranin karakter ini. Bahkan aku sampai ngebayangin setiap adegan jika diperankan oleh Adipati yang kalau menurut netizen lebih cocok meranin karakter Dilan. Mungkin nggak akan sedapet ini feelnya. Eh ya, pada ngeh juga nggak sih suara langsung Vanesha dan pas di VO tuh beda banget. Suara langsungnya kan rada manja-manja gitu, sedangkan pas VO tuh malah jadi mirip banget sama suara kakaknya, Sissy Priscillia.
     Dan mggak terlalu banyak konflik sih di film ini, maksud aku, setiap konflik dihadirkan dengan sangat cepat dan kayak numpang lewat aja. Dan nggak tau kenapa ini yang bikin aku berpendapat kalau film ini sedikit garing. Beberapa adegan kayak nggak terlalu bagus eksekusinya. Jadi bikin yang nonton kayak mikir "apaan sih maksudnya?". Contohnya kayak candaan ringan Dilan dan Milea di motor yang bagi mereka lucu dan harusnya bagi kita yang nonton juga ngerasain kelucuannya malah nggak dapet lucunya sama sekali. 
     But over all film ini bagus sih buat ditonton dan bikin kita nostalgia ke tahun 1990-an di mana semua serba nggak ada tapi bikin kita lebih maksimal menggunakan fasilitas yang ada di sekitar. Kayak pake surat buat ngirim pesan atau telepon umum koin untuk komunikasi. Dan di mana masa SMA jadi masa yang paling indah karena kita nggak perlu mikirin hal-hal besar di masa depan. Di mana kita cuma mikir kalau masa SMA ya masanya cinta-cintaan yang nggak pakai logika. Di mana rayuan atau gombalan udah cukup bikin kenyang dibanding makan di restaurant mewah haha.
     Oiya tapi aku tetep mau komplain ya karena Dilan dan Milea yang nggak pernah pakai helm pas naik motor haha. Mau tahun 90-an atau 2000-an kayaknya pakai motor di jalan raya bakalan tetep kena tilang sih kalau nggak pakai helm, mana pakai seragam gitu kan. Hm.
   
Genre : Drama
Duration : 110 minutes
Distributor : Max Pictures
Producer : Ody Mulya Hidayat
Director : Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Writer : Pidi Baiq, Titien Wattimena
Cast : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan
Tayang di Bioskop Thursday, 25 January 2018
   

You Might Also Like

0 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *