5 Destinasi Wisata di Papua yang Bisa Kamu Kunjungi Selain Raja Ampat

Wednesday, March 25, 2020

     Kalau ngomongin soal Papua, pasti yang langsung terbesit di otak kalian adalah Raja Ampat, bener ngga? Promo soal Raja Ampat memang gencar banget, jadi wajar aja kalau kalian lebih tau atau hanya tau destinasi Raja Ampat di Papua. Banyak yang bilang Papua itu indah banget, sayangnya karena transportasi yang tergolong mahal, bikin agak mikir buat ke Papua. Padahal tau nggak sih, ternyata emang banyak banget destinasi yang bisa kita kunjungi di sana, apalagi buat yang sumpek sama kebisingan kota, Papua sebagai destinasi wisata hijau bisa banget jadi pilihan. Rasanya harga mahal nggak bakal jadi soal, soalnya kepuasannya bakal terbayarkan.
  

5 Destinasi Wisata Hijau di Papua

1. Lembah Baliem, Wamena

     Lembah yang dikenal dengan Grand Baliem Valley ini berada di pegunungan Jayawijaya ini memiliki ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut. Pemandangannya dikelilingi sama pegunangan yang indah dan masih alami. Kalau ke sini di malah hari, kalian harus membawa pakaian hangat karena suhunya bisa mencapai 10-15 derajat Celcius di malam hari. Populasi penduduk di lembah ini sekitar 100.000 jiwa dan merupakan tempat tinggal dari suku Dani, Yali dan Lani.
 
Lembah Baliem - Source : wisatahits.blogspot.com
     Kalau kalian bener-bener tertarik buat datang ke sini, tempat ini terbuta terbatas untuk pariwisata pada bulan Agustus karena akan ada Festival Lembah Baliem yang menarik banget buat ditonton. Festival ini menampilkan pertujunjukkan perang antarsuku Dani, Lani dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Nantinya ketiga suku tersebut akan saling adu kekuatan, tapi nggak usah khawatir karena pertunjukkannya aman buat dinikmati. Selain pertunjukkan antar suku, ada juga pertunjukkan budaya dan seni oleh masyrakat Pegunungan Tengah, Papua.
  
Festival Lembah Baliem - Source : Pinterest Widya

Akses Menuju Lembah Baliem (Transportasi dan Akomodasi)

     Untuk mencapai lokasi Lembah Baliem yang berada di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua, kalian bisa naik pesawat menuju Bandar Udara Sentani di Jayapura lalu melanjutkan penerbangan ke Wamena menggunakan beberapa maskapai pilihan seperti Trigana Air Service, Express Air, Wings Air dan penerbangan komersial jenis Cessna superti Susy Air, MAF Aviation dan AMA Aviation.
  
     Di Wamena kalian bisa menginap di hotel ataupun penginapan tradisional seperti Hotel Baliem Pilamo, Hotel Baliem Valley Resort, Hotel Rainbow Inn, Hotel Boulevard, Hotel Syahrial Makmur, Hotel Trendy, Hotel Srikandi dan Hotel Sinakma Elok Cottage. Sementara untuk penginapan tradisional seperti Losmen Lauk Inn, Penginapan Tradisional Usilimo, Penginapan Tradisional Anemangi Kurulu, Penginapan Tradisional Sompaima dan Penginapan Tradisional Obia. 
 
Hotel Baliem Valley Resort - Source : Flickr Yaniruma

2. Air Terjun Bihewa, Nabire

     Air terjun yang berada di Distrik Makimi Nabire ini merupakan air terjun yang paling tinggi di tanah Papua. Lokasinya sangat terpencil di dalam hutan belantara yang lebat dengan pemandangan yang menakjubkan. Air Terjun Bihewa memiliki ketinggian 40 meter dengan 7 tingkat. Biasanya wisatawan paling sering mengunjungi tingkat kedua karena memang paling mudah. Dari tingkat ini kita bisa menikmati indahnya air terjun yang jatuh dari bebatuan dan suara air yang bergemuruh ditambah dengan  asrinya pepohonan di sekitar serta udara yang sejuk.
  
Air Terjun Bihewa - Source : pesona.travel
     Walaupun sampai tingkat ketujuh, jarang ada wisatawan yang bisa sampai ke sana karena lokasinya memang sangat sulit untuk dijangkau dan aksesnya masih sangat terbatas. Ada banyak rintangan menuju tingkat tujuh, mulai dari dihadang batu besar hingga pohon raksasa yang melintang menutupi jalan. Padahal konon katanya, tingkat ketujuh lebih indah lagi dan udaranya lebih segar.
  

Akses Menuju Air Terjun Bihewa

     Untuk mencapai lokasi ini, kalian harus naik pesawat menuju Nabire dan mendarat di Bandara Douw Aturure. Perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil menuju ke Distrik Makimi. Menuju air terjunnya sendiri, kita harus melanjutkan perjalanan dengan trekking. Saran aku sih, kalian harus punya pengalaman trekking sebelumnya, soalnya lokasinya tersembunyi dan bisa dibilang aksesnya cukup berat dan sulit. Tapi semua itu terbayar dengan pemandangan hutan yang indah dan asri. Selain melewati hutan, kita juga harus melewati jalan bebatuan yang dikelilingi jurang yang cukup dalam. Karena jalannya sangat licin, kita juga harus ekstra hati-hati.
 
Air Terjun Bihewa - Source : Ramadhan/Asumsi.co

3. Danau Uter, Maybrat

     Danau Uter ini terletak di Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Lokasinya cukup jauh dengan pemandangan sekeliling danau seperti bukit kapur bervegetasi warna warni yang indah. Untuk sampai ke bibir danau, kita harus berjalan menuruni jalan bersemen yang terhampar luas yang dibuat bagi para pengunjung untuk mengakses tempat pemandian. Suasananya sepi, airnya bening banget membiru, sampai tembus pandang ke dasar danau. Nggak ada perahu atau alat transportasi danau lainnya, jadi bisa kedengeran banget sorakan burung-burung hutan. Kebayang banget kan asrinya kayak apa.
  
Danau Uter - Source : Youtube Karaa Can Vlog

Akses Menuju Danau Uter

     Untuk menuju Danau Uter, kalian bisa membutuhakan waktu kurang lebih 1 jam dengan jarak tempuh 30 kilometer dari bandara Kambuaya menggunakan motor menuju Kampung Sris dengan melewati rangkaian hutan sekunder, kebun-kebun milik warga, serta kampung-kampung di sekitar Distrik Aitinyo. Dari sana, jarak Danau Uter hanyalah 100 meter. Sayangnya di lokasi wisata sekitar danau belum ada rumah singgah ataupun pondok wisata untuk pengunjung.
 
Danau Uter - Source : Youtube Karaa Can Vlog
     Untuk teman-teman yang beragama nasrani, khususnya Kristen Protestan yang pengen melakukan Ekowisata tapi juga sekalian wisata religi, bisa banget mengunjungi Pulau Mansinam yang ada di Manokwari, Papua Barat. Di sini kalian bisa melihat patung Yesus Kristus setinggi 30 meter yang dibangun pada tahun 2014 yang menjadi salah satu ikon kita dan menjadi tanda penyebaran Injil di Tanah Papua.
  
Patung Yesus Kristus - Source : Pinterest Widya
     Melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi Papua No. 140 Tahun 2008, 5 Februari menjadi hari memperingati masuknya Injil dan kini ditetapkan sebagai hari libur resmi dan cuti bersama bagi masyarakat Papua dan Papua Barat. Biasanya  ribuan orang Papua asli juga berduyun-duyun datang ke pulau ini untuk mengadakan perayaan.
  
Prasasti Ottow-Geissler - Source : www.indonesiakaya.com
     Di Pulau Mansinam ini juga berdiri gereja pertama di Papua yang bernama Gereja Pengharapan (Krek der Hopen). Bangunan ini didirikan Geissler pada 1864, pondasi gereja yang asli masih juga tersisa dan dapat dilihat pada bangunan tersebut. Di samping gereja, juga terdapat sumur tua yang digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air tawar mereka. Selain pondasi gereja dan sumur, juga terdapat situs sejarah lain seperti tempat pembakaran roti yang terbuat dari semen.
  
Gereja Pengharapan - Source : www.indonesiakaya.com
     Taman nasional yang terletak di Papua ini memiliki luas wilayah sebesar 2,4 juta Ha dan merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Taman ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1999 dan banyak terdapat tanaman asli, hewan dan budaya. Di wilayah ini juga terdapat persediaan mineral dan operasi pertambangan berskala besar. Tahun 2003 - 2006, WWF telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006-2007 pemetaan dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat.
 
Taman Nasional Lorentz - Source : www.cnbcindonesia.com
     Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Pasifik. Kawasan ini menjadi salah satu di antara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Di Taman Nasional yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi ini terdapat sebanyak 34 tipe vegetasi di antaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput dan lumut kerak.
 
Taman Nasional Lorentz - Source : www.cnbcindonesia.com
     Taman nasional ini juga memiliki keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman Suku Nduga, Dani Barat, Suku Amungme, Suku Sempan dan Suku Asmat. Fyi, Suku Asmat ini terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.
 
Suku Asmat - Source : worldheritage.routes.travel.com

Akses Menuju Taman Nasional Lorentz

     Untuk wisata ke Taman Nasional Lorentz, kita berangkat dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi. Dari kota Wamena ke bagian selatan kawasan menggunakan kendaraan mobil menuju Danau Habema, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Puncak Trikora.
 
Puncak Trikora - Source : www.cnbcindonesia.com
     Gimana? Udah ngiler belum buat wisata alam ke Papua? Nggak salah ya kalau Papua dibilang sebagai destinasi wisata hijau. Alamnya tuh masih bersih banget, asri dan bener-bener menyejukkan. Kalau pengen tau lebih banyak soal Tanah Papua, kalian bisa intip websitenya Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation), karena di sana banyak banget info-info soal pengelolaan dan konservasi sumber daya alam terutama di Tanah Papua dan Maluku.
 

You Might Also Like

4 komentar

  1. Tinggal disana itu ngeri-ngeri sedap karena ada OPM
    Tapi buat liburan itu surga banget

    ReplyDelete
  2. Sekarang Alhamdulillah aman kok, ayo ke Papua..

    ReplyDelete

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *