Festival Air di Dunia

Sunday, October 19, 2014

     Berwisata ke sebuah tempat, jangan sampai melewatkan festival tradisional yang sedang berlangsung. Apalagi jika festival tersebut menggunakan air sebagai unsur utamanya.
      Mengunjungi Thailand jelang tahun baru, kita akan banyak disuguhi tradisi menarik. Mengadaptasi tradisi Hindu yang menjadikan air sebagai elemen penting bagi manusia, warga Thailand melakukan ritual Rod Nam Dum Hua. Pada ritual ini, orang-orang muda akan menuangkan air wangi ke telapak para orang tua sebagai tanda kerendahan hati dan meminta berkah. Ritual lain yang cukup penting yaitu memandikan patung Buddha. Umat Buddha menuangkan air harum pada patung Buddha di kuil atau di rumah-rumah mereka. Selanjutnya warga menuangkan semangkuk air pada anggota keluarga, teman dekat dan tetangga. Dan puncaknya, dalam rangka meneyambut tahun baru, inilah yang dikenal dengan Festival Songkran. Warga Thailand akan menyiramkan air ke semua penduduk kota dan turis. Cipratan air sebagai simbol mencuci semua kemalangan pada tahun lalu dan menyambut tahun baru dengan awal baru yang segar.
     Jika Thailand punya Songkran, Myanmar punya Thingyan. Festival ini berlangsung menjelang akhir musim panas pada bulan April setiap tahun. Warga biasanya akan berpuasa, memberi sedekah dan melakukan hal-hal baik. Selanjutnya warga saling memercikkan air wangi satu sama lain. Yang tak kalah menarik, bunga padauk sebagai simbol festival Thingyan akan menghiasi kota. Fesstival yang digelar selama tiga sampai lima hari ini dimeriahkan dengan warga berdiri di panggung bambu di sepanjang jalan dan memercikkan air pada setiap orang yang lewat. Air ini melambangkan pembasuhan dari nasib buruk dan dosa di tahun sebelumnya.
     Selanjutnya Dai Water Splashing Festival. Festival yang dirayakan selama tiga hari di Cina ini juga merupakan ritual keagamaan yang berakhir dengan kegembiraan. Semua orang akan disiram air. Di sekitaran sungai, lampu warna warni diapungkan. Ini sebagai simbol untuk mengusir nasib buruk dan membawa keberuntungan. Puncaknya, warga berkumpul di kuil mengenakan pakaian terbaru dan terbaik mereka. Kemudian melakukan ritual memandikan Buddha. Tradisi penyiraman air ini merupakan ekspresi dari keinginan warga terhadap keberuntungan dan kemakmuran, karna air dianggap sebagai simbol pemurnian agama.
On Air : Saturday, 18 October 2014
Edited by Hadini Amalia

You Might Also Like

0 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *