MedSos: Berkah atau Musibah bagi Toleransi dan Keberagaman?

Wednesday, June 22, 2016

     Di era yang semakin maju ini, sudah terlalu banyak jenis media sosial yang bermunculan. Sebut saja, Facebook, Twitter, Plurk, Path, Instagram, Line, Skype sampai WhatsApp. Sebenarnya, banyak sekali keuntungan yang kita dapat dengan berbagai macam media sosial tersebut. Namun, sangat disayangkan, tidak sedikit yang menyalahgunakan fungsi dari alat komunikasi online itu. Media sosial yang seharusnya menjadi wadah untuk memperbaiki komunikasi, malah bisa menjadi alat pemicu keretakan bagi penggunanya.
Sumber foto : www.bawaslu-dki.go.id
     Salah satu contoh nyatanya, ketika perayaan Nyepi bagi umat Hindu di Bali. Pada saat merayakan hari Raya Nyepi, seluruh umat Hindu di Bali mengikuti tradisi leluhur dengan melakukan Catur Brata Penyepian. Namun, untuk menghormati umat Hindu, seluruh penduduk di Bali ikut berpartisipasi dengan mematikan listrik di rumah masing-masih tak terkecuali untuk beragama lain. Dari tahun ke tahun tradisi itu selalu berjalan tanpa adanya komplain dari umat lain. Namun seiring perkembangan teknologi dan masyarakat mulai mengenal media sosial, muncullah oknum-oknum yang menyalahgunakannya dengan menghasut masyarakat lain dengan membuat tulisan atau status bernada miring. Seperti beberapa tahun terakhir ini pada saat perayaan Nyepi, ketika kita mulai mengenal BBM, saya pernah mendapatkan broadcast message dari seorang teman yang ternyata juga bersumber dari orang lain. Isinya mengenai sebuah akun di Facebook yang menulis sebuah status tentang perayaan Nyepi di Bali. Inti dari tulisan tersebut adalah dia merasakan tersiksanya harus ikut bertoleransi dengan mematikan listrik di rumahnya. Hal ini memicu kemarahan umat Hindu yang sedang merayakan Nyepi. Hari yang seharusnya menjadi perayaan penyucian diri menuju tahun yang baru malah menjadi hari terburuk bagi umat Hindu. Banyaknya kemarahan malah itu membuat si pembuat status merasa berhasil dengan aksinya. Padahal, jika kita telusuri, siapasih pemilik akun Facebook itu? Nyatanya, akun tersebut tidak jelas siapa pemiliknya, siapa namanya, agamanya, tinggalnya, bahkan fotonya saja bukan milik pribadi. Jadi sebeneranya masyarakat Bali sudah membuang-buang waktu dan energi dengan marah pada sebuah akun palsu.
Sumber foto : balidriverandvilla.com
     Tinggal di lingkungan yang memiliki berbagai jenis agama membuat saya bisa melihat, seseorang yang  beragama tidak akan mungkin menghina atau menjelek-jelekkan agama lain, karena mereka sudah diajari masing-masing oleh agamanya, bagaimana cara menghormati dan bertoleransi antar umat beragama. Dan saya yakin, orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk sebuah perpecahan pastinya tidak memeluk salah satu agama yang ada di Indonesia.
Sumber foto : www.kuliahbahasainggris.com
     Kalau dilihat dari kerugiannya, mungkin cukup mengerikan ya, hanya dengan sebuah kata-kata atau status di media sosial, efeknya bisa begitu dahsyat. Tapi, tidak selamanya media sosial berdampak negatif, banyak hal positif yang juga bisa kita dapatkan dari sini. Salah satu contoh yang membuat sedikit tersenyum adalah, media sosial bisa menjadi ajang pencarian jodoh. Ada yang sependapat? Atau malah sudah mengalaminya?
     Kita tahu, di Indonesia terdiri dari banyaknya suku dan budaya. Kebanyakan di antaranya memilih pasangan hidup yang sama dengan suku orang tuanya, tujuannya tidak lain untuk melestarikan suku dan kebudayaan yang di warisi leluhur. Seperti suku Batak dan Bali. Kita mengenal adanya marga dan kasta pada kedua suku tersebut. Suku Batak kebanyakan beragama Islam dan Katolik atau Kristen. Biasanya setiap orang Batak memiliki marga dan kepercayaannya adalah marga yang bagus sebagai pasangan adalah apabila seorang anak laki-laki menikah dengan perempuan yang bermarga sama dengan sang Ibu kandung. Pasti susah kan untuk menemukannya. Atau kasus pada kasta umat Hindu. Banyaknya jenis kasta seperti Ida Bagus, Gusti, Cokorda atau Dewa ini juga terkadang meyulitkan sesama umat Hindu mencari pasangan hidupnya. Biasanya wanita dengan kasta tinggi tidak boleh menikah dengan pria dengan kasta di bawahnya, karena kasta tersebut akan berpengaruh kepada anaknya. Jadi sebaiknya dengan kasta yang sama agar kasta-nya tetap lestari. Lebih susah lagi kan? Belum lagi umat Hindu di Indonesia sangat sedikit. Tidak jarang untuk melestarikannya, mereka mencari pasangan dari keluarga atau kerabat dekat saja.
     Tapi sekarang dengan adanya bantuan media sosial, kita bisa dengan mudah mencari jawabannya. Pasti pernah kan iseng untuk mencari nama-nama marga atau kasta tersebut di media sosial? Hanya dengan mengetik nama atau kasta yang kita mau, akan keluar banyak sekali akun yang kita cari. Akun asli biasanya pasti akan menggunakan foto profile yang nyata beserta sedikit informasi penting yang perlu kita ketahui pada orang tersebut. Jika cocok, pasti kita tidak ragu untuk menjadikannya sebagai salah satu teman di media sosial yang kita punya, benar kan? Kelihatannya konyol ya? Tapi jangan salah, itu malah sangat membantu dan menurut saya sah-sah saja kita lakukan selama kita juga bisa berjaga-jaga dengan kejahatan atau efek negatif yang ditimbulkan oleh media sosial itu sendiri.
     Terbukti kan, tidak selamanya media sosial menjadi musibah bagi masyarakat. Selama kita sebagai individu bisa berfikir cerdas terhadap apa yang kita lihat dan kita baca, media sosial malah bisa menjadi berkah juga lho.
"artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa"

You Might Also Like

1 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *