Seandainya Saya Jadi Menteri Pendidikan

Saturday, May 20, 2017

     Beberapa tahun belakangan ini, saya selalu mendengar ataupun membaca keluhan-keluhan tentang sistem pendidikan di Indonesia yang berubah-ubah. Tidak hanya murid-murid yang merasakan dampaknya, tapi para orangtua juga.
     Kita ambil contoh kecilnya yang baru-baru terjadi belakangan ini, Ujian Nasional dengan sistem Komputer. Langkah untuk melaksanakan UN menggunakan komputer tentunya merupakan inovasi yang sangat bagus. Tapi sayangnya, langkah ini tidak dipersiapkan matang-matang. Akhirnya, banyak masalah yang timbul karena pelaksanan UN dengan sistem komputer ini. Banyak diberitakan mengenai sekolah-sekolah yang belum mampu memfasilitasi dengan sarana dan prasarana yang menunjang. Pemerintah seperti terlalu tergesa-gesa dalam membuat keputusan. Akibatnya, para siswalah yang akhirnya menjadi korban dari hasil uji coba pemerintah yang terkesan semena-mena.
     Miris. Melihat hal ini, rasanya saya ingin berandai-andai menjadi Menteri Pendidikan. Beberapa riset menyebutkan ada 3 permasalahan utama pendidikan di Indonesia. Yakni kualitas guru, sekolah yang tidak ramah anak dan deskriminasi terhadap kelompok marginal. Sebenarnya, di luar ketiga permasalahan tersebut, mungkin masih banyak permasalahan lain dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dan sebagai generasi penerus bangsa yang tentunya pernah merasakan suka duka dalam menempuh bangku sekolah, saya ingin sekali memajukan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu hal ini lah yang akan saya lakukan jika saya menjadi Menteri Pendidikan.
    
Nelson Mandela Quotes
     Yang pertama, meningkatkan kualitas guru. Di era millenial ini sudah terlalu banyak siswa dan siswi yang jauh lebih pintar dan kritis dibandingkan para pengajar. Akibatnya, bisa saja para siswa akan meremehkan kemampuan sang Guru dan menganggap apa yang diajarkan hanyalah omong kosong saja. Untuk mencegah itu semua, saya sangat mengharapkan setiap guru yang akan menjadi pengajar harus benar-benar menguasai bidang yang akan diajarkan kepada murid-muridnya. Saya pernah mengalami yang namanya diajar oleh seorang guru Fisika yang ternyata tidak begitu menguasai mata pelajaran Fisika dikarenakan memang bukan itu bidang yang dikuasainya. Kenapa akhirnya beliau bisa menjadi guru Fisika adalah karena sekolah memang membutuhkannya dan tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya menjadi guru Fisika. Ya bisa dibayangkan bukan? Seperti menjadi seorang penumpang pesawat yang ternyata dikemudi oleh pilot yang sedang mabuk. Tidak jelas arahnya. Mengkhawatirkan. Itu yang akan sangat saya cegah. Setiap calon pengajar nantinya akan harus menjalani tes yang akan mampu membuktikan kemampuan mereka yang layak untuk menjadi seorang guru. Tambahannya, karena era globalisasi yang semakin maju, setiap calon pengajar harus mampu menguasai teknologi yaitu komputer dan setidaknya mampu berbahasa Inggris walaupun pasif.
     Yang kedua, mengenai sarana dan prasarana di sekolah. Diharapkan setiap sekolah memiliki fasilitas seperti laboratorium fisika, kimia, biologi, komputer, bahasa, perpustakaan, lapangan, serta semua yang menunjang proses pembelajaran. Hal ini memang cukup sulit karena anggaran yang diberikan pemerintah tentunya terbatas. Namun, pelan-pelan tetap harus diwujudkan. Oleh karena itu seluruh sekolah swasta di Indonesia yang akan diwajibkan pertama kali terhadap fasilitas-fasilitas tersebut. Selain fasilitas, diharapkan jumlah siswa per kelas maksimum hanyalah 30 siswa dengan sistem duduk sendiri-sendiri. Hal ini bertujuan untuk membuat para guru fokus dalam mendidik siswa dan para siswa juga terbiasa mandiri untuk mengurangi tingkat kecurangan seperti niat untuk mencontek atau meminjam-minjam barang teman sebangku. Biasanya para siswa malam membawa buku pelajaran ke sekolah dengan alasan berat dan terbiasa menggunakan buku secara sharing bersama teman sebangku. Padahal buku pelajaran adalah hal wajib yang harus dibawa ketika sekolah karena merupakan panduan untuk belajar.
     Yang ketiga, masalah jam belajar dan ekstrakurikuler. Saat ini hampir semua sekolah di Indonesia memiliki waktu belajar dari hari Senin hingga Jum'at. Berbeda dengan jaman dahulu yang dimulai dari Senin hingga Sabtu. Karena perubahan ini mengakibatkan bertambahnya jumlah jam per hari yang dibutuhkan para siswa sebagai pengganti hari Sabtu. Memang benar, hari libur para siswa menjadi lebih banyak. Tapi saya rasa tidak efektif. Setiap hari saya melihat adik saya yang pulang hingga sore dalam keadaan yang sangat lelah dan malamnya dia harus belajar lagi untuk mengerjakan PR atau persiapan jika ada ulangan keesokan harinya. Dari situ saya melihat, akan lebih baik jika waktu belajar diubah kembali seperti semula. Nyatanya anak-anak yang terlalu dipaksa untuk belajar seharian penuh malah akan merasa jenuh dan lebih mudah merasa stres. Maka dari itu jam 2 siang adalah batas waktu paling lama anak-anak berada di sekolah. Dan untuk menunjang bakat para siswa, di setiap sekolah wajib memiliki sedikitnya 5 jenis ekstrakurikuler. Seluruh siswapun diwajibkan untuk mengikuti minimal 1 ekstrakurikuler tersebut.
     Yang keempat, mengenai ujian berkala yang biasa diadakan setiap menyelesaikan suatu materi dalam satu mata pelajaran. Jenis soal yang diberikan diharuskan berupa essay. Ini untuk membiasakan para siswa agar tidak menjawab pertanyaan atau soal dengan bergantung pada pilihan jawaban yang ada. Jika selama belajar para siswa sudah terbiasa dengan jenis soal seperti ini, nantinya ketika Ujian Nasional mereka tidak akan cemas dengan jenis soal serupa ataupun yang berupa pilihan ganda. 
     Yang kelima atau yang terakhir adalah masalah penjurusan. Saat ini kelas 10 atau 1 SMA sudah diwajibkan menentukan jurusan yang akan mereka pilih untuk 3 tahun di bangku Menengah Atas. Padahal ketika lulus dari Sekolah Menengah Bawah, usia mereka belum cukup matang untuk menentukan apa yang akan mereka yakini sebagai pilihannya kelak. Di masa-masa inilah banyak yang menyatakan diri bahwa mereka salah jurusan. Dan salah jurusan tentu akan berdampak fatal bagi masa depan para siswa. Siapapun tidak menginginkan ini. Maka dari itu, akan lebih baik untuk memberi kesempatan para siswa berpikir lebih matang terhadap pilihan yang akan menentukan masa depan generasi bangsa ini. Satu tahun mempelajari semua bidang dan di tahun kedua mereka wajib menentukan pilihan.
     Saya pikir kelima hal itulah yang akan saya ubah jika saja saya menjadi Menteri Pendidikan. Saya harap perubahan kecil itu bisa berdampak positif terhadap kemajuan pendidikan generasi baru penerus bangsa.

You Might Also Like

1 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *