Ternyata Aku Tidak Benar-Benar Menyukainya

Sunday, September 25, 2016

     Hari ini bisa dibilang jadi hari terakhirku bekerja di salah satu perusahaan TV swasta terkemuka di Jakarta. Entahlah, tapi aneh yang kurasa, selama 2 tahun di sini, walaupun kenyataannya aku tidak merasa nyaman, tapi banyak hal yang tentu membuat aku susah melupakan tempat ini. Keputusanku untuk akhirnya meninggalkan tempat ini bukan karena aku sudah menemukan tempat kerja yang baru, tapi aku sudah merasa jenuh dan bosan dengan segala pekerjaanku di sini. Aku lelah. Lelah dengan waktu yang tidak menentu, dengan jam kerja di sini. Bukankah ada pepatah yang mengatakan Love What You Do, Do What You Love ? Ya, mungkin aku memang tidak mencintai pekerjaanku, untuk itu aku harus pergi.
     Karena hari terakhir, aku memanfaatkan waktu ini dengan berpamitan pada semua rekan kerja yang aku kenal. Ada keraguan saat aku hendak menyapa satu sosok ini. Ya, Mike, dia adalah rekan kerja beda divisi di kantorku. Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, walaupun kami sudah berteman di beberapa akun media sosial yang aku punya, tapi aku belum pernah benar-benar berbicara layaknya seorang teman padanya. Namun sepertinya aku tidak peduli, kenapa harus malu menegur duluan? Toh setelah ini aku juga akan segera pergi dari kantor ini dan tidak akan melihatnya lagi.
     "Hai Mike! Aku mau pamitan ya! Hari ini aku terakhir kerja."
     "Resign? Kenapa?"
     "Hehe, iya. Sampai ketemu lagi ya!" rasanya aku tidak perlu menjelaskan alasanku untuk berhenti bekerja pada orang yang tidak benar-benar ku kenal.
     Aku pikir percakapan basa basiku pada Mike hanya berlangsung saat itu saja, aku juga tidak berharap akan ada percakapan kedua, ketiga atau seterusnya dengannya. Tapi siapa sangka, satu pesan masuk dari handphoneku.
     "Kamu mau resign? Kok nggak dijawab tadi alasannya?" ternyata pesan dari Mike. What? Mike? Entahlah, tapi kenapa aku jadi gugup untuk membalasnya.
     "Iya, mungkin udah saatnya hehe." Aku benar-benar tidak tahu harus membalas apa.
     "Kalau ada waktu, ngobrol sebentar yuk, aku tunggu di luar."
     Tidak, tidak, kenapa aku jadi gugup seperti ini? Bukankah Mike hanya mengajakku untuk ngobrol sebentar? Mungkin karena aku belum pernah bicara berdua saja dengannya selama ini. Rasanya aneh. Tapi entah kenapa, aku akan mengiyakan ajakannya.
     "Ok, tunggu ya!"
     Aku tiba juga di sini, bersama Mike. 20 menit waktu yang cukup untuk kuhabiskan dengan berbicara dengannya. Sebenarnya tak banyak yang kami bicarakan. Mike bukanlah orang yang mudah membuka sebuah percakapan, cukup banyak jeda untuk kami beralih ke pembicaraan berikutnya. Nervous, entahlah. Tapi melihatnya lebih banyak diam dan hanya memperhatikanku berbicara membuatku tak nyaman. Rasanya seperti kehabisan bahan obrolan. Aku memutuskan untuk mengakhiri obrolan dan pergi dari tempat itu dengan alasan dipanggil atasan. Ya, aku rasa itu alasan yang tepat untuk menyakinkannya dan bisa segera bergegas meninggalkannya.
**
     3 hari menjadi pengangguran buatku bukanlah masalah. Rasanya seperti bebas, tidak ada beban, entahlah tapi aku bahagia. Kebahagiaanku bertambah setelah aku lebih mengenal Mike. Memang, terakhir kali kami bertemu, aku merasa tidak nyaman dengannya, tapi obrolan kami berlanjut dengan seringnya Mike mengirimkan pesan singkat setiap harinya. Aneh, Mike bukan orang yang pintar berbicara langsung, tapi dalam setiap chat-nya aku merasa nyaman, seperti tidak kehabisan obrolan. Aku selalu senyum-senyum sendiri setiap menerima pesan darinya, seperti saat ini.
     "Kapan-kapan jalan yuk!"
     "Kemana?"
     "Ngopi kek sambil ngobrol-ngobrol."
     "Boleh, kapan?"
     "Sabtu ini, gimana? Aku jemput ke rumah ya?"
     "Emang tau rumah aku dimana?"
     "Ya kalau kamu ngasih tau aku, kan bisa dicari pake waze, hhe"
     "Haha, yaudah, Sabtu ya!"
     Aku masih tidak bisa percaya mengiyakan ajakannya dan dengan mudahnya memberikan alamat rumahku padanya. Sampai akhirnya Sabtu pun tiba. Tidak, tidak, aku harus pakai baju apa? Aku panik, rasanya seperti dijemput pacar untuk kencan. Tapi Mike bukan pacarku dan aku juga rasanya tidak menyukainya atau menginginkannya menjadi pacarku. Tapi kenapa aku grogi? Entahlah, sepertinya aku harus tenang. Mike sudah tiba di depan rumah dan aku harus segera bergegas keluar.
     "Hai, sorry ya lama nunggu."
     "Nggak apa-apa, langsung aja yuk."
     Di perjalanan, Mike mulai menyetel lagu favoritnya yang sejujurnya aku belum pernah mendengarnya. Intinya sih lagu tentang kisah percintaan. Hmm, boleh diganti radio aja nggak sih? Rasanya aku ingin mengucapkan kata-kata itu. Tapi nanti malah bisa merusak moodnya dan membuatnya menurunkanku di jalan haha. 
     Akhirnya kami tiba di salah satu restoran di Jakarta Timur. Aku sudah berencana kalau tidak akan makan berat di tempat ini dan memutuskan untuk hanya memesan french fries, hakau dimsum dan segelas juice alpukat yang akan membuatku kenyang walau hanya makan sedikit. Dan aku cukup terkejut dengan pesanan Mike. Dia hanya memesan Kopi dan roti bakar. What? Aku saja tidak yakin kenyang dengan pesananku, ya mungkin ini yang namanya appetizer. Kita lihat saja nanti.
     Tidak seperti yang ku kira, kali ini banyak sekali yang kami perbincangkan. Makanan dan minumanku yang porsinya sedikit bahkan hampir habis seiringnya waktu. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, Mike belum menyentuh rotinya sedikitpun, bahkan kopinya baru diteguk sedikit. Dia jaim atau memang tidak lapar dan haus sih? Atau terlalu menyenangkan obrolan kami, sampai-sampai dia melupakan semua pesanannya?
     Bahkan setelah hampir larut malam dan aku mengajaknya pulang pun, dia belum menghabiskan roti pesanannya. Mungkin rasanya nggak enak kali ya? Hasil yang aku dapat dari pertemuanku dengan Mike kali ini adalah aku merasa senang, that's it! Bahkan aku seperti merasa jatuh cinta. Sampai di rumahpun aku masih senyum-senyum sendiri. Tapi aku kemudian menyakinkan perasaanku, tidak, aku tidak benar-benar jatuh cinta. Mungkin aku hanya merasa senang saja, maklumlah sudah beberapa tahun belakangan ini aku belum pernah pacaran lagi. Dengan dia menjemputku ke rumah, rasanya aku seperti punya pacar saja. Padahal aku sendiri tidak yakin kalau aku menyukainya.
**
     Saat ini, setiap hari aku selalu menunggu pesan singkat dari Mike. Tidak, tidak, kenapa aku jadi merasa seperti jatuh cinta lagi ya? Sebelumnya, memang banyak lelaki yang menjadi teman dekatku. Yang pada akhirnya mereka suka dan menyatakan perasaanya padaku. Tapi ya sudah, aku tidak tertarik dengan mereka. Tapi dengan Mike, entah kenapa aku terlihat lebih antusias. Padahal bisa dibilang, Mike sama sekali bukan tipeku.
     Ya, Mike sangat menyukai otomotif. Sayangnya, aku lebih suka dengan lelaki yang menyukai sport dibanding otomotif. Haha. Terlalu picik memang kalau kita tidak menyukai seseorang hanya karena hobinya. Tapi entah kenapa, aku suka merasa kesal dengan lelaki yang selalu saja membicarakan tentang modifikasi mobil atau motor. Aku lebih antusias dengan lelaki yang membicarakan klub bola favoritnya yang sedang bertanding, walaupun aku sendiri tidak terlalu paham dengan bola atau olahraga lainnya. Rasanya terdengar lebih macho dan laki. Haha.
     Tapi ya sudahlah, kenapa harus dipikirkan? Toh aku juga tidak berencana menjadikan Mike sebagai pacarku kelak. Walaupun tidak bisa dipungkiri, hidupku lebih berwarna sejak kemunculannya. Sampai akhirnya, Mike mengutarakan perasaannya padaku.
     "Cha, aku boleh ngomong sesuatu nggak?"
     "Ngomong aja, kenapa?"
     "Sebenernya, aku udah lama suka sama kamu, sejak pertama kali kamu ada di kantor. Cuma aku nggak pernah berani ngedeketin kamu karena ternyata temen aku juga suka sama kamu."
     "Hmm terus?"
     "Ya, makanya sekarang aku seneng banget bisa lebih kenal sama kamu. Jujur aja, aku pengen kita bisa lebih dari sekedar teman. Tapi sebelumnya aku mau tau dulu, kamu sendiri kayak gimana sama aku?"
     My God My God! Kenapa jadi gini nih? Waduh, harus senang apa bingung ya? Jujur saja, aku memang menikmati hubungan teman tapi care bersama Mike. Tapi kalau harus berlanjut ke arah yang lebih serius, rasanya aku tidak seyakin itu. Di usiaku yang ke-25 ini, sudah bukan saatnya aku memacari orang hanya berdasarkan pada pandangan pertama. Untuk apa aku membuang-buang waktu bersama dengan orang yang tidak benar-benar aku sukai. Memang sih, katanya cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu bersama. Tapi perasaanku tidak sekuat itu padanya.
     "Mmm, gimana ya Mike, jujur saja saat ini aku merasa kalau lebih nyaman berteman dengan kamu. Maaf, tapi kita masih bisa berteman seperti biasa kan?"
     "Jadi kamu sama sekali tidak punya perasaan apa-apa untukku Cha? Yasudahlah, tidak apa-apa."
     Ya Tuhan, rasanya aku merasa seperti sangat bersalah. Tapi, jika harus berpura-pura menyukainya, bukankah itu lebih kejam?
**
     Seminggu berlalu sejak Mike mengutarakan perasaanya padaku. Ternyata dia bohong, dia tidak menepati perkataannya untuk berteman seperti biasa. Dia menghilang tanpa kabar. Aku tahu, mungkin dia ingin melupakan perasaannya untukku, tapi jujur saja, aku merasa kehilangan sosoknya. Apa aku mulai jatuh cinta? Ah tidak, tidak, mungkin ini hanya karena aku yang telah terbiasa mendapatkan perhatian darinya.
     Aaarrghh! Aku benci harus kehilangan "teman". Tapi aku juga tidak berani menghubunginya duluan. Aku takut jika nantinya hanya membuat dia semakin berharap dan kecewa. Mungkin lebih baik jika aku harus menjaga jarak dengannya untuk sementara waktu.
**
     "Hai Cha, apa kabar?"
      Eh eh, nggak salah baca kan? Whats app dari Mike! Wohoooo! Akhirnya Mike menghubungiku lagi!
     "Baik Mike, kamu apa kabar?"
     "Aku baik juga kok, oiya, maaf ya Cha, kemaren-kemaren aku nggak hubungi kamu lagi. Aku kebawa perasaan, makanya jadi gitu."
     "Iya gpp kok Mike, aku ngerti."
     "Kamu masih mau jalan sama aku kan? Sabtu besok kosong nggak? Pergi yuk!"
     "Ya maulah hehe. Ayo aja, mau kemana?"
     "Kita cari tempat makan yang enak aja ya, kangen pengen ngobrol-ngobrol sama kamu. Sabtu aku jemput ke rumah ya!"
     "Ok deh, sampai ketemu Sabtu ya!"
     Yess! Ngedate sama Mike! Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari Sabtu.
**
     "Mike, sorry ya lama nunggu."
     "Nggak kok, yuk!"
     Entah kenapa, aku merasa seperti menemukan kebahagiaanku lagi. Apa aku baru menyadari kalau aku menyukainya? Entahlah.
     Sebelumnya aku pikir akan merasa canggung bertemu Mike lagi. Tapi ternyata, obrolan kami sangat mudah mencair. Itulah yang membuat aku nyaman berbicara dengannya. Selalu saja ada bahan obrolan yang kami bicarakan. Mulai dari teman-temannya, tentang kami sendiri, hingga masalah pekerjaan.
     "Kamu suka ngopi nggak? Kita ke sana yuk!"
     Mike menghentikan mobilnya di sebuah kedai kopi di daerah Depok.
     "Suka kok, yuk!"
     Salah satu alasanku kenapa mau diajak ke kedai kopi ini adalah, aku tidak perlu memesan makanan berat. Haha. Ternyata masih saja sifat jaimku muncul ketika bersamanya. Dan kami memilih duduk di lantai 2 karena Mike bisa bebas merokok di sana. Ini dia! Salah satu kebiasaan buruknya yang sangat tidak aku suka. Aku benci sekali dengan asap rokok, tapi entah kenapa aku tidak ingin melarang Mike untuk merokok. Aku membiarkannya dengan mengatur posisi dudukku agar tidak langsung mengenai asap rokok yang dihembuskannya.
     "Kamu nggak apa-apa kan kalau aku ngerokok?"
     "Nggak apa-apa kok, asal nggak kebanyakan aja, aku pusing."
     "Hehe iya iya."
     Lebih dari 2 jam kami bersama, akhirnya aku memintanya untuk mengantarkan ku pulang. Bukan apa-apa, aku lapar haha. Tapi aku tidak berani mengatakan padanya.
     "Pulang yuk, udah malam."
     "Yaudah yuk."
     Semoga saja bunyi cacing yang teriak-teriak di dalam perutku tidak terdengar olehnya. Ya Tuhan, kenapa aku harus sejaim itu ya? Padahal, aku cukup nyaman berbicara banyak dengannya. Masa iya, untuk makan atau mengatkan aku lapar saja harus malu-malu. Entahlah.
     Sampai di rumah, aku merasa seperti di surga. Akhirnya! Nasi... I'm coming! Aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku rela harus kelaparan daripada makan di depan Mike. Sejujurnya, ini mungkin dikarenakan aku termasuk orang yang sangat berantakan ketika makan. Hahaha. Aku tidak mau terlihat bodoh atau celemotan di depan orang yang aku suka. Tunggu sebentar, orang yang aku suka? Itu berarti aku suka dengan Mike? Tidak, tidak, ini tidak mungkin. Aku sudah meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak menyukainya sama sekali. Maksudku, Mike bukanlah tipe pacar ideal yang aku dambakan selama ini.
**
     Sudah 2 minggu ini aku dan Mike masih terus berhubungan baik lewat chat-chat kami. Walaupun aku sudah pernah menolaknya, tapi Mike masih saja beberapa kali menggombaliku dan berusaha untuk merebut hatiku. Sayangnya, aku sudah benar-benar menutup hatiku untuknya. Ternyata, aku tidak benar-benar menyukainya. Aku memang merasa nyaman memiliki teman yang selalu nyambung dengan apapun topik yang sedang aku bicarakan. Tapi, itu saja tidak cukup untuk menjadikannya seorang pacar. Dia tidak membuatku nyaman. Bayangkan saja, aku harus selalu merasa kelaparan ketika bersamanya. Haha aku tahu, itu salahku sendiri, siapa suruh bersikap jaim.
     Ketika kita tidak bisa menjadi diri sendiri di depan orang yang kita suka, maka tinggalkan. Untuk apa? Kau hanya akan membohongi dirimu sendiri. Mungkin suatu saat nanti, aku akan menemukan seseorang yang bisa membuatku nyaman. Sabar saja, pasti ada saatnya. Dan rasanya, aku harus mengakhiri pertemanan terlalu dekatku bersama Mike. Kasihan dia. Hingga saat ini dia masih saja mengharapkanku. Aku tidak mau dianggap sebagai perempuan pemberi harapan palsu. Karena aku juga tidak ingin karma berbalik kepadaku. Mungkin, aku harus menjauhinya pelan-pelan.
**
     Hari ini Mike mengajakku pergi lagi. Beberapa waktu yang lalu, dia sudah pernah mengajakku untuk bertemu, namun aku masih bisa memiliki alasan logis untuk menolak ajakannya. Tapi sekarang? Apa iya aku harus membuat beribu alasan tidak masuk akal untuk menghindarinya? Aku tidak bisa berbohong terus-menerus, namun aku juga tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku tidak mau semakin memberinya harapan, karena aku benar-benar tidak bisa memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupanku yang lebih jauh.
     Lebih menyebalkan mana, chat di read tapi tidak di reply atau tidak di read sama sekali? Dua-duanya bukan pilihan bagus menurutku. Dan aku memilih yang pertama. Itu jauh lebih menyebalkan kukira. Aksiku ini memang bukanlah cara yang baik, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Mike menghilangkan perasaannya untukku.
     Tidak putus asa, Mike berkali-kali mengirimkan chat di whats app dan SMS untukku. Bahkan dia meminta maaf dan mengira aku marah karena dia telah melakukan sesuatu yang mungkin menyakitiku. Tidak Mike, kamu tidak salah apa-apa. Aku yang salah. Aku yang tidak bisa bersikap jujur denganmu. Maaf Mike, mungkin ini satu-satunya cara terbaik agar kamu bisa segera melupakanku dan melanjutkan hidupmu dengan pilihanmu yang lain. Karena aku benar-benar tidak bisa bersamamu.
***

You Might Also Like

0 komentar

© chaca atmika 2010 - 2016. Powered by Blogger.

Popular Posts

Follow on Twitter

Contact Us

Name

Email *

Message *